Menyembuhkan Penyakit Dengan Puasa Oleh Kyai Hasan Maolani

Menyembuhkan penyakit dengan puasa oleh Kyai Hasan Maolani – Dalam tafsirnya Imam Al-Maraghi terdapat alasannya. Puasa adalah sarana untuk riyadlah atau sarana untuk menguji ketahanan fisik serta mental kita. Dalam hal spiritual Islam, puasa merupakan jalan untuk dapat menambah keimanan, ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dari firman Allah SWT di dalam Surat Al-Baqarah ayat 184 :

 وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

 Artinya : “dan memilih berpuasa adalah lebih baik jika saja kamu mengetahuinya

Yang mempunyai makna mendalam. Konteks dari ayat tersebut ialah memperlihatkan kecenderungan Allah SWT dalam memperlihatkan jalan supaya lebih memilih berpuasa pada hari lain (qadla) daripada harus membayar denda (fidyah) untuk hamba-Nya yang tidak mampu puasa Ramadhan.

Selain dalam hal medis yaitu menyembuhkan penyakit dengan puasa, fungsi puasa dalam menyehatkan tubuh pun diaplikasikan pada hal kegiatan non-medis seperti para ulama, salah satu diantaranya adalah Kiai Hasan Maolani. Yakni seorang ulama terkenal yang berasal dari Kuningan, Jawa Barat. KIai Hasan Maolani hidup pada sekitar abad ke-19, sebuah waktu di mana banyaknya konfrontasi antara ulama dan kolonial Belanda.

Dikarenakan dianggap berbahaya oleh koloni, Kiai Hasan Maolani  kemudian diasingkan sampai Kampung Jawa Tondano di Sulawesi Utara satu tempat pengasingan dengan Kiai Modjo serta pasukannya. Namun Kiai Hasan Maolani terus menjaga komunikasi dengan keluarganya dengan surat-menyurat.

Menyembuhkan Penyakit dengan Puasa

Menyembuhkan Penyakit dengan Puasa

Pada suatu hari, Kiai Hasan Maolani menerima surat yang dikirim oleh putranya yakni Kiai Abshori atau Nurhamid. Beliau berceriya mengenai kondisi salah seorang keluarganya yang ada di Kuningan yang sedang sakit. Kiai Abshori kemudian mengeluhkan keadaan tersebut terhadap ayahnya, padahal beliau telah menyembelihkan satu ekor sampai dua kambing aqiqah, tapi tetap penyakitnya tidak lekas sembuh.

Kiai Hasan Maolani pun menanggapi keluhan dari putranya itu dengan meminta saran dari guru spiritualnya yakni Panembahan Daqa. Panembahan Daqa pun selanjutnya menyarankan supaya menyembelih dua ekor kambing aqiqah lagi untuk yang sedang sakit sehingga kambing yang dikorbankan menjadi empat ekor. Saran ini diberikan sebab terdapat keistimewaan batin yang ada pada diri yang sakit. Berikut kutipan pernyataan Kiai Hasan Maolani saat menyampaikan pesan gurunya:

Wa ayḍan. Perkara marīḍ sira, isun tutur maring sira cacak tatkala diaqīqahi sawiji iya maksih lara lan dèn aqīqahi roro iya maksih lara. Nuli isun matur maring Mbah Daqā’. Timbalane iku aqīqahe kudu papat wedus kerana iku bocah bakal ana pangkate (…). Sira gawe aqīqah papat wedus yèn ora anemu wedus iya ayam-ayam pada (…).

Yang artinya: “Kemudian terkait masalah sakitmu, Aku katakan kepadamu untuk mencoba saat menyembelih satu ekor kambing akikah satu masih sakit dan ketika menyembelih dua ekor juga masih sakit. Kemudian Aku meminta saran kepada Mbah Daqā’. Katanya, Aku harus memotong empat kambing akikah untukmu karena di dalam diri anak itu akan ada kedudukan (…). Jadi, tunaikanlah akikah empat ekor kambing namun kalau tidak ada kambing maka boleh diganti dengan ayam”.

Selain dengan menambah shodaqoh dengan aqiqah, Kiai Hasan Maolani pun menyarankan supaya menambah puasa rutin guna menyembuhkan penyakit dengan puasa tersebut. Puasa itu dilaksanakan pada hari Kamis dan Senin atau setidaknya mungkin dilaksanakan setiap sebulan sekali.

Wa ayḍan. Tirunana lakunisun niyat puasa sunah Khams atawa Ithnayn atawa liyané atawa sawulan pisan iya luwih utama. Artinya: “Kemudian, ikutilah perbuatanku dalam berniat puasa sunnah hari Kamis atau Senin atau di hari lain atau bahkan sebulan sekali itu lebih utama”.

Sebelum melakukan ibadah puasa, si sakit perlu meniatkan guna mensucikan diri serta lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dia pun mesti menyatakan bahwa puasanya merupakan sebuah bentuk dari permohonan ampun dan taubat kepada Allah SWT terhadap segala kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Selain hal itu, ia pun perlu menyatakan diri jikalau puasa ini merupakan permulaan langkah guna kembali pada jalan yang benar yang diikuti oleh langkah dari orang-orang yang shalih, bertaqwa (muttaqin), juga para wali Allah.

Berikut adalah lafadz niat yang diajarkan oleh Kiai Hasan Maolani:

نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِّ مِنْ يَوْمِ الْخَمْسِ (الإِثْنَيْنِ) لِلتَّوْبَةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَالْكَفَارَةِ مِنَ الذُّنُوْبِ الْكَبَائِرِ وَالصَّغَائِرِ كُلِّهَا وَلِلدُّخُوْلِ فِيْ طَرِيْقِ الصَّالِحِيْنَ وَمَعَ الدُّخُوْلِ فِيْ طَرِيْقِ الْمُتَّقِيْنَ وَمَعَ الدُّخُوْلِ فِيْ طَرِيْقِ الْمُجَاهِدِيْنَ وَمَعَ الدُّخُوْلِ فِيْ طَرِيْقِ الصَّابِرِيْنَ وَمَعَ الدُّخُوْلِ فِيْ طَرِيْقِ أَوْلِيَاءِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا وَمَعَ الدُّخُوْلِ فِيْ طَرِيْقِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ مَعَ قَضَاءِ الْحَوَائِجِ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ سُنَّةً للهِ تَعَالَى

Nawaitu shaumal ghaddi min yaumil khamsi (itsnain) lit taubati wal maghfirati wa kafarati minadz dzunubil kaba’iri wash shagha’iri kulliha wa lid dukhuli fi thariqish shalihin wa ma’ad dukhuli fi thariqil muttaqin wa ma’ad dukhuli fi thariqil mujahidin wa ma’ad dukhuli fi thariqish shabirin wa ma’ad dukhuli fi thariqi auliya’illahish shalihin min masyariqil ardi ila magharibiha wa ma’ad dukhuli fi thariqi ahlis sunnati wal jama’ah ma’a qadla’il hawa’iji fid dini wad dunya wal akhirah sunnatan lillahi ta’ala.

Yang artinya: “Saya niat berpuasa esok hari Kamis (Senin) sebagai bentuk pertaubatan, permohonan ampunan, hukuman atas semua dosa besar maupun kecil, mengikuti jalan orang-orang yang shaleh, mengikuti jalan orang-orang yang bertakwa, mengikuti jalan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, mengikuti jalan orang-orang yang sabar, mengikuti jalannya para wali Allah yang berada di timur dan barat bumi, mengikuti jalannya golongan ahlussunnah wal jama’ah, dan untuk mewujudkan hajat (keinginan) untuk memperjuangkan agama, dunia, serta akhirat. Sunnah karena Allah taala”.

Dan kemudian, disarankan untuk berpuasa seperti biasa yakni dengan menahan diri dari makan, minum, dan berbagai macam hal yang dapat membatalkan puasa lainnya entah itu secara lahiriah ataupun batin. Waktu untuk berpuasa dimulai pada waktu Subuh dan berbuka puasa diwaktu Maghrib. Ketika berbuka puasa, Kiai Hasan Maolani menyaraknkan untuk melaksanakan hal yang satu ini :

Lan sadurungé buka iku maka dèn aturaken puasa iku maring guru dumugi ing Rasululullah kaya ujaré

اَللهُمَّ رَبِّ اجْعَلْ صِيَامَنَا هَدِيَّةً مِنَّا لِسَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اّللهُمَّ تَقَبَّلْ شّفَاعَةَ مُحَمَّدٍ الْكُبْرَى وَارْفَعْ دّرَجَةَ الْعُلَى وَأعْطِهِ سُؤْلَهُ فِي الْأَخِرَةِ وَالْأُوْلَى كَمَا أَتَيْتَ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أّنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. أَمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَميْنَ.

Allahumma rabbij’al shiyamana hadiyyatan minna li sayyidina wa nabiyyina Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allahumma taqabbal syafa’ata muhammadin al-kubra warfa’ darajatal ‘ula wa’thihi su’lahu fil akhirati wal ula kama ataita Ibrahima wa Musa. Rabbana taqabbal minna innaka antas sami’ul alim wa tub ‘alaina innaka antat tawwabur rahim. Amiin ya rabbal alamiin.

Yang artinya: “Dan sebelum berbuka puasa agar mempersembahkan puasa tersebut untuk guru-gurumu hingga untuk Rasulullah. Begini ucapannya: Ya Allah, jadikan puasa kami sebagai hadiah dari kami untuk junjungan dan nabi kami Muhammad SAW. Ya Allah kabulkanlah syafa’at (pertolongan) dari Nabi Muhammad, angkatlah kepada derajat yang tinggi, dan kabulkanlah segala permohonannya baik di dunia maupun di akhirat sebagaimana Engkau memberikannya kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Ya Allah, terimalah permohonan kami karena sesungguhnya Engkaulah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami karena sesungguhnya Engkaulah Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang. Amiin ya rabbal alamiin

Kesimpulan

Demikianlah artikel kami mengenai menyembuhkan penyakit dengan puasa oleh Kyai Hasan Maolani. Ternyata banyak hikmah yang dapat diambil dari ibadah puasa, selain sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, puasa juga dapat menyembuhkan penyakit, tentunya dengan tujuan agar senantiasa dekat dengan Allah SWT. Sekian dari kami dan semoga bermanfaat.

5 / 5. 371

× Klik di sini untuk pemesanan